APA KABAR BBM ?
( Sebuah Pemikiran, Renungan dan Sinisme Radikal )
BBM adalah suatu komoditi yang berpengaruh dan paling penting di jaman modern ini, tanpa adanya BBM
boleh dikatakan kehidupan modern akan terhenti karenanya. BBM merupakan Sumber Daya Energi yang akan habis dalam
waktu tertentu dan tidak dapat diperbaharui secara singkat, sebab untuk menghasilkan BBM diperlukan proses alami
yang membutuhkan waktu ribuan bahkan jutaan tahun lamanya. BBM terbentuk dari sisa-sisa fosil yang tertanam di perut
bumi selama jutaan tahun, jadi sumber energi ini bersifat sementara sampai persediaan yang ada diperut bumi ini
habis dan harus menunggu jutaan tahun lagi untuk mendapatkannya.
Para ilmuwan di dunia telah memikirkan cara untuk menggantikan posisi BBM ini dengan berbagai cara, akan tetapi
hingga saat ini belum juga didapatkan hasil yang maksimal dan efesien. Di Indonesia sebuah Badan Penelitian Nasional
atau LIPI telah mencoba mendaur sejenis tanaman yaitu Pohon Jarak untuk dijadikan salah satu alternatif pengganti
Minyak bumi, akan tetapi proses penyulingan Bahan bakar tersebut masih terhitung mahal, dan hanya berselisih sedikit
dengan harga minyak bumi. Selain itu proses nya juga membutuhkan waktu yang tidak sedikit sehingga tidak mungkin
untuk memenuhi kebutuhan Nasional akan minyak bumi apalagi memenuhi kebutuhan Dunia. Maka alternatif ini
juga menjadi tidak populer dan tetap saja manusia modern kembali lagi pada BBM sebagai salah satu komoditinya.
Karena kelangkaan dan berkurangnya pasokan minyak bumi dunia, maka harga BBM terus melambung sehingga timbul
dampak sosial akibat kenaikan harga BBM dunia ini. Indonesia yang dahulu adalah salah satu negara pengekspor minyak
terbesar, sekarang menjadi kebalikannya yaitu salah satu negara Pengimpor minyak terbesar didunia. Disebabkan oleh
hal tersebut maka Pemerintah Indonesia memberikan subsidi BBM sebagai salah satu program nya, untuk mensejahterakan
rakyat. Tetapi suatu hal yang mengejutkan beberapa waktu lalu, yaitu Pemerintah menetapkan untuk menarik
subsidi BBM dan akan dipergunakan untuk menutupi defisit Anggaran Belanja Negara yang didapat dari pencabutan subsidi
tersebut. Sehingga tak ayal lagi ribuan Mahasiswa dan Rakyat pun ramai-ramai menentang kebijakan Pemerintah.
Karena sudah tidak diragukan lagi, dengan ditariknya subsidi BBM tersebut maka imbasnya akan kembali kepada rakyat
kelas bawah bukan rakyat kelas menengah keatas. Bisa dibayangkan bahwa kenaikan harga BBM tentu saja akan
memicu kenaikan harga-harga komoditi lainnya seperti sandang, pangan dan papan yang menjadi komoditi dasar rakyat
kelas bawah.
Pernyataan Bapak Wakil Presiden Yusuf Kalla di depan Press patut dipertanyakan, punya hatikah Ia, sadarkah Ia ketika
melontarkan pernyataan bahwa subsidi BBM, 70% adalah dinikmati oleh rakyat kelas atas bukan kelas bawah, sehingga
pendemo yang menentang kebijakan tersebut dinyatakan sebagai pendukung rakyat kelas atas ?. Tidakkah Bapak melihat
dan merasakan apa yang dialami rakyat kelas bawah karena kenaikan harga BBM ini ?. Pernahkah Bapak merasakan hidup
seperti kami rakyat kelas bawah ?. Pernyataan seperti itu tidak seharusnya Bapak lontarkan bila memang Bapak sebagai
Wakil Pemimpin negeri ini tidak mampu lagi berpikir untuk mensejahterakan rakyatnya dan sudah kehabisan
akal untuk memberikan alasan mengenai pencabutan subsidi ini.
Bila memang Pemerintah merasakan bahwa subsidi BBM ini 70% dinikmati oleh golongan menengah keatas tidak bisakah
Pemerintah menaikan Pajak Kendaraan bermotor sebesar 3000 %, dan PPN sebesar 5000 % untuk barang LUX atau Mewah ?,
Maka dengan demikian tidak perlu lagi mencabut subsidi BBM yang Imbasnya langsung kepada rakyat golongan bawah.
Atau tidak bisakah Pemerintah menugaskan lembaga penelitian negara antara lain LIPI, BPPT, dan BATAN untuk
meneliti sumber alternatif energi lain yang melimpah di dunia ini yaitu H2O alias AIR untuk
diproses menjadi sumber daya energi baru ? Coba simak firman ALLAH SWT
dalam Al-Quran surat Al-Baqoroh ayat 164 sebagai berikut :
" Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di
laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air
itu dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran
angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran
Allah) bagi kaum yang memikirkan. "
Seandainya saja Pemerintah Indonesia mau bekerja sama dengan para Teknokrat, baik dari Lembaga Negara maupun
Universitas, mungkin apa yang difirmankan oleh ALLAH SWT tersebut akan dapat terlaksana. Kita mengetahui bahwa
sebagian besar permukaan bumi adalah AIR, sebagian besar unsur tubuh manusia adalah AIR dan sebagian besar
wilayah Indonesia juga adalah AIR. Tidak bisakah diteliti untuk memisahkan unsur AIR yaitu : HIDROGEN dan OKSIGEN
yang kemudian dijadikan sumber energi alternatif yang aman dan ramah lingkungan ?. Bisakah memanfaatkan HIDROGEN
untuk dijadikan Bahan Bakar Kendaraan yang semakin sesak di bumi Indonesia ini ?. Bila kita melihat dari siklus
kehidupan yang ada di bumi ini, maka AIR adalah salah satu unsur dari siklus kehidupan tersebut, dan menurut
teori para Ahli sejarahpun bahwa mahluk pertama yang mendiami bumi ini berasal dari AIR. Untuk itu sudah saatnya
bagi kita untuk menoleh ke masa depan dimana sumber energi BBM yang kita gunakan akan semakin menipis lalu habis.
Atau bila memang AIR tidak bisa dijadikan suatu sumber energi, bisakah Pemerintah menugaskan kepada Badan Penelitian
Nasional untuk membuat suatu proyek yang dapat digunakan untuk masyarakat menengah kebawah. Bukan proyek konversi
penggunaan MINYAK TANAH ke GAS yang boleh dikatakan proyek konversi ini juga tidak berjalan mulus, malah akhir-akhir
ini juga pasokan GAS tidak lancar dan harganya semakin mahal. Atau ini hanya suatu siasat Pemerintah untuk mengurangi
subsidi BBM ?. Kalau demikian adanya, Pemerintah Indonesia saat ini sungguh tidak punya hati nurani dan hanya
mementingkan diri sendiri. Sekali lagi ditekankan bahwa kenaikan BBM tidak berpengaruh pada rakyat golongan
menengah ke atas tapi justru berpengaruh langsung pada rakyat golongan bawah, dan ini perlu digaris bawahi oleh
pemerintah yang mungkin tidak pernah mengalami kondisi seperti kami rakyat kecil yang setiap hari hanya makan
nasi plus tahu dan tempe yang harga kedelainya semakin melonjak karena kenaikan harga BBM ini.
Ingin lebih jelas mengenai dampak kenaikan komoditi yang disebabkan oleh kenaikan BBM ?, mari kita telaah secara jujur
dampak tersebut dalam bentuk tabel :
Tabel Rincian biaya harian yang disebabkan
oleh kenaikan harga BBM di kota Bandung tahun 2008.
Rincian Komoditi
Harga Sebelum Kenaikan
Harga Sesudah Kenaikan
Ongkos Angkutan Kota
Rp. 2500,- / 1X
Rp. 3500,- / 1X
Beras termurah
Rp. 4500,- / KG
Rp. 5500,- / KG
Gula Pasir Curah
Rp. 6000,- / Kg
Rp. 7500,- / Kg
Minyak Tanah
Rp. 3000,- / Lt
Rp. 3500,- / Lt
Minyak Goreng Curah
Rp. 6500,- / Kg
Rp. 8500,- / Kg
Tempe
Rp. 1500,- / Lj
Rp. 2500,- / Lj
Tahu 10 X 10 X 5 cm (Tahu Putih)
Rp. 2000,- / Bh
Rp. 3500,- / Bh
Total Biaya
Rp. 28.500,- / Hari
Rp. 38.000,- / Hari
Selisih Biaya Rp. 9500,- dikalikan 30 hari = Rp. 285.000,-
Dari tabel diatas dapat dibayangkan bahwa dampak kenaikan harga bahan pokok untuk golongan bawah yang berpenghasilan
rata-rata Rp. 600.000,- perbulan akan berkurang sebesar Rp. 285.000,- setiap bulannya, itupun dihitung berdasarkan
apa yang dipaparkan dalam tabel belum lagi biaya yang lainnya. Lalu Pemerintah mencanangkan untuk memberikan subsidi silang yang
besarnya kalau tidak salah sebesar Rp.150.000,- per bulan, ini berarti rakyat kelas bawah masih harus menanggung
beban biaya sebesar Rp. 135.000,- setiap bulannya. Sehingga dengan demikian angka kemiskinan akan tetap bertambah
secara drastis akibat kenaikan harga BBM ini walau Pemerintah berencana memberikan subsidi silang. Belum lagi adanya
indikasi korupsi yang merajalela akibat pemberian dana subsidi silang ini.
Lalu ada kabar bahwa Pemerintah juga akan memberikan subsidi untuk mahasiswa yang tidak mampu sebesar Rp. 500.000,-
per Semester, wahai Bapak Pejabat..!, Rata-rata orang yang bisa mengkuliahkan anaknya di Perguruan Tinggi terutama
Perguruan tinggi Swasta Kecuali mendapatkan Beasiswa adalah orang yang berada pada golongan menengah keatas.
Sebab rakyat golongan bawah dengan penghasilan yang seperti diatas tidak mungkin memasukan anaknya kuliah di
Perguruan Tinggi, jadi camkan itu baik-baik. Lagi-lagi kemungkinan ini adalah sebuah tipu muslihat dari Pemerintah yang busuk untuk meredam aksi mahasiswa yang
perduli pada rakyat kelas bawah. Wahai Bapak Pejabat..!, Aksi Mahasiswa berdasarkan Nurani, Solideritas, Kepedulian, dan Kebangsaan terhadap Negara Republik Indonesia, tidak akan
bisa dihentikan dengan Uang Suap sebesar Rp. 500.000,- per semester. Yang benar adalah bagaimana caranya Pemerintah
bekerja sama dengan para Mahasiswa dan Universitas untuk menciptakan suatu proyek yang bisa menurunkan angka kemiskinan dengan
memberikan Biaya Riset untuk proyek tersebut, bukan dengan Uang Suap seperti diatas.
Sebagai kesimpulan, apa yang harus dilakukan oleh Pemerintah dalam mengatasi melonjaknya harga BBM dunia dan
untuk mengurangi Defisit Anggaran Belanja Negara seperti Bagan dibawah ini :
Bagan aliran Subsidi
Nah seperti itulah kira-kira bagaimana tindakan pemerintah dalam mengelola APBN, terutama pendapatan dari Pajak
dan pengeluaran melalui subsidi BBM. Dengan mengenakan Pajak sebesar 500% untuk Motor, dan 2000% untuk Mobil, serta
5000% untuk barang mewah. Maka penggunaan BBM akan dikurangi, dan jalan juga tidak macet karena berkurangnya angka
pembelian Kendaraan. Hasil dari Pajak tersebut digunakan untuk mensubsidi BBM dan Riset-riset yang dibutuhkan
untuk menciptakan suatu ENERGI ALTERNATIF selain BBM yang hasilnya juga nanti akan dinikmati oleh seluruh rakyat
Indonesia dari golongan Bawah sampai Atas.